This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 29 Januari 2014

Fabel Anak Babi

Fabel Anak Babi 

Pada suatu hari Fauna city ada seekor anak babi yang sedang membeli bata untuk membuat rumah.
Anak babi : “Ha, aku sudah mendapatkan bata aku hanya tinggal membuat rumah.”
Anak babi pun membuat rumahnya dengan senang hati dan ketika sudah selesai anak babi pun masuk ke dalam rumah. Lalu ada seekor srigala yang buas dan ganas, karena dengan tiupannya saja rumah yang lain bisa hancur.
Srigala : “( tok, tok, tok ) mengetuk pintu ) Anak babi ! anak babi ! buka pintunya.”
Anak babi : “Ha, itukan srigala yang ganas itu. Iiiii…. Atut.”
Srigala : “Anak babi ! anak babi ! cepatlah buka.”
Anak babi : “Tidak aku tidak akan membukakan pintu, kau kukan srigala pemakan daging.”
Srigala : “Rupanya kau sudah tau ! aku akan menghancurkan rumahmu. Hia……..hus……….. . ha tidak hancur, aku akan mencoba lagi. Hia……… hus……..ah tidak bisa. Tunggu kau besok aku akan datang lagi .

Keesokan harinya.
Srigala : “Anak babi ! bagaimana kalau kau ikut denganku, mengambil buah ceri di pohon sana buahnya banyak lho.”
Anak babi : “Oh….baiklah nanti sore kau jemput aku disini ya.”
Srigala : “Baiklah aku jemput jam 03.00.

Rupanya anak babi sudah tahu dimana pohon cery itu, ia aka mengambilnya sendiri.
Anak babi : “Srigala belum datang aku akan pergi mengambil buah itu sendiri.”
Anak babi pun memanjat pohon ceri itu dan mengambil buahnya, tidak lama kemudian.
Anak babi : “Sudah banyak aku mau pulang dulu. Ha, itu srigala aku harus cepat pulang.”
Setelah anak babi sampai di rumah. Srigala pun datang untuk menjemput anak babi.
Srigala : “Anak babi, bagaimana dengan janjimu.”
Anak babi : “Aku sudah mengambil buah ceri itu dan rasanya enak sekali.”
Srigala : “Ha….. kurang ajar, kalau kalau bertemu aku akan kuhajar kau dan kumakan.”

Keesoka harinya anak babi pergi ke pasar dan sedang memilih buah, lalu ternyata srigala itu pun datang ke pasar. Semua orang lari terbirit-birit dan anak babi pun mempunyai akal, karena ia melihat sekeranjang buah ceri.
Anak babi : “Srigala terimalah ini.”
Srigala : “ha…ha… aduh aku jatuh.”
Anak babi : “Rasakan itu. Ha…dia masih bisa bangun.”
Anak babi : “Pak aku pinjam gentongnya ya. Ini trimalah….”
Srigala : “Aa……sialan kau anak babi…..”

Tidak lama kemudian srigala itu pun mati karena menabrak pohon.

Senin, 27 Januari 2014

Fabel : Kepiting Bersahabat

Fabel : Kepiting Bersahabat

Dua ekor kepiting, Angkaro dan Tunturana, bersahabat karib. Mereka tinggal bersama dipinggir laut, dipinggir bebatuan. Apabila air laut surut, mereka bersemunyi karena takut kepada orang-orang yang sedang mencari ikan dan mencari kepiting. Bila air pasang, Angkaro dan Tunturana girang bermain tanpa takut akan ditangkap manusia.
Pada suatu malam, ketika malam purnama, Angkaro dan Tunturana keluar menikmati keindahan alam. Ketika air laut pasang, manusia pun beramai-ramai menikmati sinar purnama seperti halnya makhluk-makhluk yang lain.
Angkaro : “Sahabat, badan kita polos, tak indah dipandang.”
Tunturana : “bagaimana kalau punggung kita dihiasi agar kelihatan menarik.”
Angkaro : “Baik sekali pendapat itu. Kita perlu mempercantik diri agar kelihatan menarik. Lalu bagaiman caranya?”
: “Begini saja.”
“Punggung kita lukis dengan warna-warni cat yang serasi warnanya dengan kulit kita.”
Angkaro : “Aku setuju. Sekarang marilah punggung kita percantik dirumah. Aku punya cat.kita bergantian menghiasi punggung.”
“Baik”
“Siapa dulu”
Tunturana : “Aku dulu.”
“Ukirlah punggungku dengan hiasan yang indah-indah.”
Angkaro mulai mengukir punggung Tunturana. Punggung Tunturana dihiasi dengan bulatan yang bagus berselang-seling besar kecil dari muka kebelakang dan dari atas kebawah. Lukisan itu sangat memmpesona.

Angkaro : “Sudah selesai sahabat .”
“bercerminlah dipermukaan air dibawah sinar bulan purnama!”
Tunturana pun bercermin.
Angkaro : “Bagus,bukan!”
Tunturana : “Ya, bagus sekali! Terima kasih sahabat!”
Angkaro : “Sekarang giliran kamu mengukir punggungku.”
Tunturana : “Baiklah! Sekarang tanamkan punggungmu, aku akan mempercantik tubuhmu.“(mengambil kuas dan cat untuk mengukir)
Tiba-tiba air laut pun surut. Datanglah. Datanglah pencari ikan membawa obor. Kedua ekor kepiting pun terkejut.
Tunturana : “Maaf, sahabat.”
“Orang-orang sudah datang hendak menangakap kita. Tak ada waktu luntuk melukis punggungmu.’
Angkaro : “Tidak! Punggungku harus kamu ukir, jangan biarkan polos!”
Melihat obor semakin dekat mata Tunturana mencakar-cakar punggung Angkaro dengan kuas dan cat. Punggung Angkaro sekarang penuh dengan cakaran tidak keruan karena tergesa-gesa menyelamatkan diri.
Tunturana : “Jangan berang sahabat.”
“Lukisanmu jelek karena bahaya sudah datang. Lebih baik tubuhmu penuh dengan cakaran daripada kita binasa. Apa boleh buat?”
Angkaro terpaksa menerima keadaan. Keduanya berkawan dalam bentuk amat beda. Tunturana cantik dan Angkaro jelek.

Sabtu, 25 Januari 2014

Fabel : Kuda Bodoh dan Anjing

Fabel : Kuda Bodoh dan Anjing

Dahulu anjing memang bersahabat dengan kuda. Mereka kemana saja selalu bersama, jika kuda sedang makan rumput di padang, anjing menunggu sambil tidur – tiduran di semak – semak. Jika anjing sedang makan, kuda bergolek sambil mengunyah – ngunyah rumput.

Meskipun begitu, anjing sering mempermainkan kuda. Kuda adalah binatang yang sabar. Ia senantiasa tersenyum.
Anjing : “Hai, kuda ! Aku mendengar manusia menuduh kawannya. Manusia itu mengatakan bahwa senyum kawannya itu seperti senyum kuda.”
Kuda tidak menjawab . Ia hanya tersenyum .
Anjing : “Apakah senyummu itu menarik atau menjijikan ?” Tanya anjing menggoda kuda .
Kuda : “Manusia memang ada-ada saja yang di cerita kan, anjing .pandai mencaci, tetapi ia sendiri tetap jahat.” Kata kuda, yang merasa dirinya juga tersinggung dengan ucapannya itu.

Kuda tidak tinggal diam kalau dipermainkan anjing.
Kuda : “Hai anjing ! aku juga sering mendengar manusia menuduh sesamanya. Katanya senyum manusia itu seperti anjing dibakar. Apa ya, kira-kira makudnya ?”
Anjing yang merasa terpukul lalu menjawab.
Anjing : “Ah, sama saja dengan katamu tadi bahwa manusia suka mencaci, menjelek-jelekkan orang lain. Padahal mereka sendiri lebih jelek. Bukankah mereka itu yang membunuh dan membakar anjing ? Senyum anjing dibakar adalah senyum penderitaan bukanlah senyum kegembiraan.”
Suatu ketika, anjing mengundang kuda agar datang ke rumahnya. Ia hendak mengadakan pesta, kuda datang tanpa curiga. Sambil membawa bingkisan dedak padi bercampur garam.
Ketika kuda tiba di rumah anjing, persiapan pesta telah siap. Kambing, kerbau, dan lembu juga hadir.”

Anjing : “Saudara-saudara, acara pesta akan kita mulai, saya harap saudara – saudara duduk dengan tertib.”
Kambing : “Mbek, ……. Sejak nenek moyangku belum pernah duduk, susah juga
nih !”
kuda : “Ieh,,,,saya juga belum pernah duduk, tapi kita harus menghormati tuan rumah.”
Lembu : “Uh…..betul – betul terlalu, masak kita disuruh duduk ! apakah anjing tidak tahu bahwa kita tidak dapat duduk ?” lembu jantan itu merasa dipermainkan lalu berputar – pitar di ruangan itu.
Kerbau : “Uak…! Saya jadi serba salah mana mungkin saya dapat duduk seperti anjing !”

Anjing sejak tadi di dapur menyediakan makanan, mendengar keluhan tamunya. Ia tertawa dalam hati.
Anjing : “Tahu rasa kalian !” kemudian Ia menuju ke ruang tamu.
Anjing : “Silakan duduk dengan enak, saudara – saudara ! Mengapa kelihatan gelisah ? apa ruang tamu ini kurang serasi ?”

Tamu – tamu itu terdiam. Mereka mencoba duduk. Tapi repot juga tampaknya. Kambing duduk dengan kaki belakang teranjur kemuka. Kaki depan ditopangnya. Punggungnya terasa pegal, mau patah. Kuda juga begitu. Kerbau berkali – kali terguling karena kaki depannya sulit menopang perutnya yang besar, lembu melenguh – lenguh menahan napasnya yang terasa sesak.
Akhirnya tamu – tamu itu memberontak dan marah – marah. Apalagi ketika mereka mendengar anjing tertawa terbahak – bahak di dapur.

Kuda : “Kurang ajar, kau ! Berani mempermainkan kami !” bentak kuda sambil menyepak anjing dengan kaki belakangnya. Hadirin beramai – ramai hendak menghajar anjing. Akan tetapi, anjing dapat melarikan diri.
Dengan terpincang – pincang, anjing lari terbirit – birit meninggalkan tamunya. Rumah anjing itu diobrak – abrik hingga berantakan. Sejak saat itu persahabatan mereka menjadi retak. Itulah sebabnya, anjing selalu menggonggong jika bertemu dengan kuda, kambing, lembu, atau kerbau.

Kamis, 23 Januari 2014

Fabel : Kelelawar Pencuri Dan Ayam

Kelelawar Pencuri Dan Ayam


Siang itu ayam sedang bermain, tiba-tiba datang seekor kelelawar yang sedang berterbangan kesana kemari tanpa tujuan.
Ayam : “Hei!, lawar mau kemana kamu?”
Kelelawar : (masih terbang dan tiba-tiba ia menabrak sebuah pohon)
Kelelawar : (terjatuh) “Aduh sakit.”
Ayam : (tertawa) “ngapa, sakit ya?”
Kelelawar : “Eh kamu yam, ada apa?”
Ayam : “Tidak. War kamu kok bisa menabrak pohon?”
Kelelawar : (menceritakan kelemahannya) “Yam, aku buta pada siang hari.”
Ayam : “Oh begitu, tapi kok kamu terbang siang-siang?”
Kelelawar : “Saya mau cari makan yam.”
Ayam : “Oh, makan tempat saya banyak war, ayo kerumahku.”

Dan akhirnya kelelawar pun terbang ke rumah si ayam.
Ayam : “Hati-hati war.”
Kemudian ayam pun pulang dan siang telah berganti malam. Pada malam itu si kelelawar mendatangi ayam.
Kelelawar : “Ayam, ayam.”
Ayam : “Siapa itu?”
Kelelawar : “Saya, lawar.”
Ayam : “Kamu dimana?”
Kelelawar : “Di depanmu.”
Ayam : “Aku tak bisa melihat.”
Kelelawar : (berpikir kalau ayam kan tidak bisa melihat pada malam hari)
Kelelawar : “Eh, iya yam saya mau minta makananmu.”
Ayam : (menunjukkan tempatnya) “Kau ambil sendiri disitu tapi jangan banyak-banyak.”
Kelelawar : (tertawa) “Oke.” (karena melihat makanan yang begitu banyak si kelelawar pun mengambil semuanya)
Kelelawar : “Terima kasih yam.” (lawar pun terbang)
Ayam : “Sama-sama.”

Keesokan harinya ayam ingin makan.
Ayam : (kaget) “Wah sialan lawar, makananku diambil semua.”
Ayam pergi mendatangi rumah si kelelawar.
Ayam : “Sialan kamu lawar, kamu habiskan makananku semua.”
Kelelawar : “Habis enak sih.”
Ayam : “Sebagai gantinya kumakan kau.”
Kelelawar : (terbang)
Ayam : “Hei, jangan lari awas ya.”

Dan sampai sekarang bila ayam bertemu kelelawar pasti akan dikejarnya.

Selasa, 21 Januari 2014

Ku Ingin Selami Jurnalitik

Kata Jurnalisti yang sering kudengar di media baik TV maupu radio ataupun yang kubaca pada media cetak sangat menggugah hatiku dan kuingin sekali aku menyelami dunia jurnalistik, karena menrutku para jurnlis orang yang cerdas dan pandai dalam menyususn bahasa , sehingga kadang sangat menawan bagiku ketika mereka sedang berbicara dan menulis.

Kepandaian jurnalis akan bisa membuat suatu keadaan berubah tergantung mengolah data dan kepandaian menyampaikan suatu berita.Jurnalistik memang tidak memberikan banyak wawasan kepada saya, tapi disana saya diajarkan “how to”. Bagaimana cara berbicara, bagaimana cara bertemu orang, bagaimana cara berkomunikasi, bagaimana cara masuk ke lembaga, dan lain-lain. pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika wawancara dengan siswa-siswi berprestasi, Guru, Kepala sekolah hingga Wali Kota. Disana saya banyak belajar itu.

Saya menginginkan sekolah mengadakan ekstra kurikuler Jurnalistik bagi sisiwa SMPN 1 Wangon, sehingga teman-teman khususnya bisa menguasai dunia jurnalistik, saya yakin bila Kepala Sekolah dan Dewan guru mau mengadakan pelatihan dan menyelenggarakan jurnalitik akan laris manis.

Dalam jurnalistik akan sejalan dengan semangat muda yang bergelora tapi mungkin biasanya akan bertentangan dengan para orang tua dan guru yang tidak terbiasa dan ketakutan dengan kebebasan berbicara, sehingga kebablasan, saya yakin tidak bila diarahkan dengan baik.

Sahabat Sejati

Sahabat Sejati
kian lama hidup yang ku jalani
selalu bersama mu sahabat ku
susah sedih senang yang ku rasakan
bersama mu sahabat ku

sahabat
begitu banyak kenangan yang kita lalui
ke bahagian yang selalu kita rasa bersama
namun musnah dengan sekejap
telah di renggut oleh maut yang tak terduga

sahabat
kini kau telah pergi meninggalkan ku
meninggalkan semua kenangan kita
menyimpulkan sebuah air mata
yang terjatuh di pipi ku

sahabat
meski kini kita tak bersama
meski kita telah berbeda kehidupan
namun kita tetap satu dalam hati dan cinta
karena kau sahabat sejati ku

selamat tinggal sahabat ku
selamat jalan sahabat sejati ku
cinta kasih mu kan selalu satu di hati ku
selamanya ………

karya :zhulva

Derai Hujan Tak Lerai

DERAI HUJAN TAK LERAI

derai hujan,

tubuhmu kuyup, sayup mata, isyaratkan keraguan
"kemana pergi? kemana pergi?"
hanya kabut dan putih buih hujan,
menyapa pandangan
"kakiku goyah, lemah, gamang melangkah"
begitu samar pandangku

jalanan basah, becek dan berlumpur
tak ada arah dituju,
langit begitu kelabu
derai hujan tak lerai;

Cilegon, 28 Juli 1998




Buku Kumpulan Puisi Derai Hujan Tak Lerai Karya Nanang Suryadi